Sinopsis
Perayaan Rindu Sang Pejalan ini benar-benar dirayakan oleh Irfan. Di dalam kata-kata yang tak berhenti menari dan berputar-putar di dekat api itu, beberapa kali dapat kita temul para guru, para karib, dan para pejalan terkasih berkelindan di dalamnya.
Perayaan yang begitu besar, sedikitnya tiga ratus puisi dimasukkan dalam buku ini. Kita semua diundang. Irfan akan menyambut kita sejak memasuki belokan gang, menceritakan asal muasal nama jalan, masjid, sungai dan sepasang kekasih yang pernah terjun bersama ke dalamnya, menuangkan kembali cawan kita yang kosong di dekat perapian, kemudian lanjut berjalan hingga puncak dunianya. Puisi benar-benar dijadikannya sebagai rumah untuk segala Irfan.
Berlebihan memang, tapi tidak bohong, membaca buku ini seketika saya mengingat Masnawi dari para perindu terdahulu. Bukan soal struktur, keindahan, atau metafor-metafor yang dihuni rahasia-rahasia, melainkan rintihan yang khas dari jiwa-jiwa yang membunyikan derita ketercerabutan/perpisahan dari rumpun bambu.
Kerinduannya begitu meluap. Sisa ruang yang seharusnya la gunakan untuk bernafas, diisinya oleh puisi. Mungkin itu alasan kenapa banyak puisi yang singkat dan lugas disini. Atau bisa jadi Irfan ingin menunjukkan betapa kata-kata sudah terlalu banyak dalam dunia yang sempit ini.
Jazuli Imam - Penulis Buku Sepasang Yang Melawan