Sinopsis
Namaku Jenaka, tetapi aku sudah lupa cara untuk tertawa. Satu-satunya yang masih
kumengerti saat ini adalah membeku di sofa kamar setiap malam, menanti para jiwa-
jiwa yang hendak menitipkan pesan sebelum mereka beranjak menuju keabadian.
Seluruh Klan Wasita berkata tugas ini adalah berkat. Namun, berkat itu telah merenggut
nyawa perempuan yang paling kucintai di dunia, Ibu. Lantas, bukankah lebih pantas
disebut sebagai laknat? Atau memang begitu, garis pemisah antara berkat dan laknat
selalu begitu tipis dibuat? Ah, entahlah. Kehidupan ini hendak berpesan tentang apa
hingga aku harus terus terjaga dibuatnya?
Nessun dorma! nessun dorma!
(Tak ada yang boleh tidur! Tak ada yang boleh tidur!)